Kesuksesan Seorang Tukang Kebun Sunny Kamengmau Hingga Menjadi Pengusaha Sukses Beromset Miliaran<span class="rating-result after_title mr-filter rating-result-4587" >			<span class="no-rating-results-text">No ratings yet.</span>		</span>

Kesuksesan Seorang Tukang Kebun Sunny Kamengmau Hingga Menjadi Pengusaha Sukses Beromset Miliaran

Menjadi seorang pengusaha sukses adalah hak bagi siapa saja yang bekerja keras dan tidak kenal menyerah. Apapun itu latar belakang Anda, ketika memiliki kemauan yang keras untuk maju dan berkembang, maka kesuksesan akan mendekat pada diri Anda. Hal ini telah dibuktikan oleh banyak orang, dan salah satunya telah di buktikan oleh seorang pemuda bernama Sunny Kamengmau.

Sunny adalah seorang pemuda yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Dulunya ia hanyalah seorang tukang kebun yang bekerja di sebuah hotel yang ada di Bali. Namun ia sekarang adalah seorang pengusaha tas yang sukses memasarkan produk buatannya di negeri sakura.

Pernahkah Anda mendengar tas tangan dengan merek Robita? Tas tersebut sangat terkenal di Jepang, serta bahkan disebut sebagai tas branded idaman para kaum sosialita di negeri sakura itu. Iya, tas itu adalah salah satu karya seorang Sunny Kamengmau, seorang pemuda yang dulunya tukang kebun dan sekarang sudah menjadi seorang pengusaha sukses tanah air.

Awal Perjuanganan Sunny Kamengmau

Sunny Kamengmau merupakan seorang pengusaha sukses yang berasal dari NTT. Kesuksesan yang didapatkannya bukanlah sesuatu yang instan, namun melalui perjalanan yang panjang. Perjalanan hidup yang ia lewati pun juga tidaklah mudah. Banyak hambatan dan rintangan yang selalu menghampirinya dalam merintis usahanya.

Ketika masih mengenyam bangku SMA, Sunny kabur dari rumah. Hal ini membuat dirinya terpaksa tidak bisa melanjutkan pendidikannya saat itu. Pelariannya ini mengantarkan ia sampai di Kuta, Bali. Di sana, ia bekerja sebagai tukang kebun di sebuah Hotel. Satu tahun kemudian, ia naik pangkat menjadi satpam hotel. Ia menjadi satpam hotel selama empat tahun.

Namun, keinginan Sunny untuk belajar sangatlah tinggi, khususnya pada bahasa asing. Keinginan itu sudah muncul bahkan ketika ia masih menjadi tukang kebun. Setiap hari ia selalu belajar basaha asing. Bahasa yang dipelajarinya adalah bahasa Inggris dan bahasa Jepang.

Tujuannya menguasai bahasa asing adalah agar ia bisa bergaul dengan para tamu yang kebanyakan dari luar negeri. Bahkan ia sampai menggunakan gajinya sebagai tukang kabun yang pada saat itu adalah Rp. 50.000 untuk membeli kamus bahasa Inggris.

Datangnya Peluang Bisnis Dari Jepang

Dari keuletannya dalam belajar dan sikap yang baik tersebut membuat Sunny akrab dengan para tamu dan majikannya sendiri. Ia mengatakan bahwa para tamu dan keluarga pemilik hotel adalah guru bahasanya.

“Antara saya dan keluarga bos, terutama anaknya Marlon ini, seperti tidak ada jarak,” ungkap Sunny.

Dengan kemampuan berbahasa Jepangnya, ia  bertemu dengan seorang tamu dari Jepang yang bernama Nobuyuki Kakizaki di tahun 1995. Kefasihan Sunny dalam berbahasa Jepang, membuatnya berteman akrab dengan tamu dari Jepang tersebut. Tak disangka, ternyata tamu tersebut merupakan seorang pengusaha yang memiliki perusahaan bernama Real Point Inc.

Setelah lima tahun mereka berteman akrab, Sunny akhirnya mendapatkan tawaran yang sangat menjanjikan dari Nobuyuki. Ia diminta menjadi pemasok tas kulit untuk Nobuyuki. Meskipun Sunny belum memiliki pengetahuan yang mumpuni pada bisnis ini, tapi dengan keberanian dan tekad kuat yang dimilikinya, ia pun menyanggupi tawaran tersebut.

Sempat Berkali-Kali Gagal, Hingga Akhirnya Bisa Meencapai Kesuksesan

Membuat produk yang berkualitas nyatanya tidak semudah yang ia bayangkan. Apalagi ia sama sekali tidak memiliki pengalaman sebelumnya. Bahkan saat itu ia membutuhkan waktu hingga enam bulan lamanya hanya untuk membuat sebuah sampel tas. Itupun tidak lantas langsung diterima. Bahkan penjahit Sunny saat itu sampai hampir putus asa dan berniat keluar.

Meskipun selalu gagal, tekad kuat membuat Sunny tak mau mundur sedikitpun. Dengan tekad dan keyakinan yang luar biasa, akhirnya tas yang dibuatnya bisa diterima oleh orang Jepang tersebut. Pesanan pun mulai berdatangan, meski pada awalnya masih sangat sedikit. Namun lambat laut terus berkembang, hingga di tahun 2003, setiap bulannya Sunny mampu mengirim 100-200 tas ke Jepang.

Pada tahun 2006, tas Robita milik Sunny mampu memenuhi kebutuhan pasar di Jepang hingga 5000 tas perbulan. Tas Robita sendiri bukanlah tas murahan di Jepang. Tas ini termasuk tas yang diminati para kaum sosialita. Harga berkisar dari Rp 2 juta sampai Rp 4 juta. Jika dihitung secara kasar, dengan harga paling murah untuk satu tas adalah Rp 2 juta, maka tas Robita mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp 10 miliar tiap bulannya.

BERI NILAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *