Keluar dari Zona Nyaman<span class="rating-result after_title mr-filter rating-result-4292" >			<span class="no-rating-results-text">No ratings yet.</span>		</span>

Keluar dari Zona Nyaman

Pernah merenung bahwa kehidupan yang kita jalani begitu flat. Ini-ini saja setiap harinya. Bangun, kerja, pulang, tidur begitu seterusnya. Maka tak heran jika usia sudah berkepala sekian, tak ada pencapaian.

Pernah melihat seorang ibu 4 anak, repotynya nggak ketulungan. Jangankan lihat gosip artis terkini, pekerjaan rumah saja tak ada habisnya. Sekarang kok bisa berangkat keluar negeri?

Ada pula emak dasteran dan nggak pernah berkeliaran. Sehari-hari di rumah saja. Suaminya hanya pegawai biasa yang gajinya pas-pas an, itu juga kalau pengeluarannya di hemat-hemat.
Kok anaknya bisa sarjana semua ya?

Yang ketiga, ada seorang bapak. kerjanya masih serabutan. Kok sekarang malah Si bapak kuliah S2?

Pernah melihat keadaan orang kesatu, kedua dan ketiga? Kita hanya bisa melihat luarannya saja, dia begini kok dapatnya begitu.

Sudah bercerminkah diri ini? Ada yang bedakah pola hidup kita dengan ketiga orang diatas?

Emak rempong yang punya 4 anak, hingga akhirnya bisa keluar negeri. Mungkin saja ia mengurangi jam tidurnya. Ya, bagi seorang IRT jika lembur adalah makanan sehari-hari apalagi jika punya balita, serta tidak ada hari libur apalagi cuti bagi IRT. Maka untuk bisa produktif adalah dengan mengurangi jam istirahatnya. Untuk apa? Pastinya ia punya tujuan yang ingin dicapai. Produktif berkarya atau produktif jualan.

Kemudian emak dasteran. Kalau biasanya emak-emak hobi banget belanja pakaian apalagi kalau bayarnya bisa pakai cara cicilan. Sudah pasti seperti ciri khas emak lainnya yang numpuk baju selemari.

Ternyata emak dasteran ini beda, yang ditumpuk di lemari adalah BUKU. Ya, dari buku yang gudangnya ilmu, emak tersebut bisa bekerja dari rumah. Sehingga dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga mendapat gelar akademis.

Si bapak, yang ketiga ini pun, karena merubah mindsetnya. Tadinya cuma mengeluh sekarang berdakwah berpeluh-peluh menyebarkan kebaikan. Tadinya murung diri sekarang bisa menginspirasi. Sehingga si bapak dari rezeki yang tak disangka-sangka mendapat biaya untuk cita-citanya melanjutkan kuliah.

Menuntut ilmu tak pernah mengenal usia. Jangan pernah berhenti belajar, merasa sudah baik dalam kehidupan. Sesungguhnya wisuda setiap manusia adalah ketika ia mengenakan kain kafan. Selagi nafas berhembus, belajar itu harus.

Jika orang kesatu memiliki pola sukses : PRODUKTIF

Orang kedua memiliki pola sukses : PRIORITAS LEHER KE ATAS

alias konsumsi untuk otak yang berwawasan.

Orang ketiga memiliki pola sukses  Mengubah MINDSET

dengan mengambil setiap hikmah perjalanan hidup. Bukan untuk meratapi jadilah yang menginspirasi.

Jadi, kita tinggal pilih mau sukses dengan pola apa?

Silahkan tentukan sendiri, karena sukses tidak datang tiba-tiba butuh doa dan usaha.

Pola sukses ke satu dan kedua bisa dipersiapkan dari sekarang.

 

Baca Juga  Bendera Kemenangan Lalu Muhammad Zohri Sang Pelari Muda Juara Dunia

KMO

BERI NILAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *